Sebuah Awal dalam Dunia Menulis
PURUK CAHU, baritobersinar.news – Sebuah percakapan sederhana terkadang mampu mengubah cara seseorang memandang kehidupan. Tidak selalu melalui peristiwa besar, perubahan justru dapat bermula dari kalimat singkat yang terus teringat dan perlahan membuka jalan menuju pengalaman baru.
Hal itu dialami Anita Elia Haitunupus, seorang ibu muda berusia (26) yang mulai menekuni dunia kepenulisan dan jurnalistik.
Perjalanannya tidak bermula dari ruang kelas atau pelatihan formal, melainkan dari sebuah percakapan sederhana di pelantaran rumah keluarganya di Jalan Pulau Basan, Kecamatan Murung, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah.
Jumat, (29/05/2026), lalu menjadi hari yang kemudian dikenang oleh wanita kelahiran Kota Pelaihari tahun 2000 silam.
Saat itu, Ahmad Aswadi datang bersilaturahmi menemui ayah Anita. Dalam perbincangan kedua sahabat tersebut, berbagai hal dibicarakan, mulai dari kehidupan masyarakat hingga perkembangan dunia media.
Anita yang berada di sekitar percakapan itu hanya menjadi pendengar. Namun, sebuah nama kemudian menarik perhatiannya yakni nama Sulaiman.
“Kalau ingin belajar menulis berita yang benar, datanglah ke Bang Sulaiman beliau Founder PT Barito meia Jaya Group berada di Kota Banjarmasin,” ujar Ahmad Aswadi ketika memberikan saran kepada Anita.
Kalimat tersebut terdengar sederhana. Namun, bagi Anita, ucapan itu justru menjadi awal dari rasa penasaran terhadap dunia jurnalistik yang sebelumnya belum begitu ia kenal.
Malam harinya, Anita mencoba membuka menghubungi Sulaiman dengan telp seluler.
Ia kemudian diminta oleh Sulaiman membaca satu berita, kemudian berita lainnya. Dari aktivitas sederhana itu, muncul kesadaran bahwa berita tidak selalu harus disajikan dengan bahasa yang kaku.
Menurut Sulaiman, tulisan yang baik mampu membuat pembaca memahami peristiwa sekaligus merasakan suasana di balik peristiwa tersebut. Dari situlah pandangannya terhadap dunia kepenulisan mulai berubah.
Nama Sulaiman yang sebelumnya hanya didengar sekilas, kemudian mendorong Anita untuk berkomunikasi secara langsung. Dari komunikasi tersebut, ia memperoleh sebuah tantangan sederhana menulis feature tentang awal perkenalannya dengan Sulaiman.
“Buatkan berita feature tentang awal kamu mengenal saya. Tulis yang menginspirasi. Jangan batasi imajinasi. Banyaklah membaca supaya tulisanmu terasah,” pesan Sulaiman kepada Anita.
Bagi Anita, pesan tersebut bukan sekadar tugas menulis.
Ia mulai memahami bahwa menulis bukan hanya persoalan merangkai kata agar menarik dibaca. Lebih jauh, tulisan memiliki tanggung jawab terhadap informasi yang disampaikan kepada masyarakat. Setiap kalimat harus dipertanggungjawabkan.
Setiap informasi harus dijaga agar tidak menyesatkan. Dan setiap tulisan berpotensi memengaruhi cara pembaca melihat sebuah peristiwa. Pesan lain dari Sulaiman juga terus diingatnya.
“Berita itu santai, tapi jangan kehilangan imajinasi. Tulis sampai pembaca merasakan, bahkan ikut larut, lalu membawa pulang makna,” pesannya lagi.
Pesan tersebut membuat Anita semakin memahami bahwa fakta dan kreativitas dalam penulisan feature bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Fakta tetap menjadi dasar, sementara cara penyajiannya dapat dibuat lebih hidup melalui pengamatan, suasana, dan sentuhan human interest.
Sejak saat itu, Anita mulai lebih serius membaca dan mengamati berbagai tulisan. Ia belajar bahwa dalam jurnalistik, kecepatan bukan satu-satunya ukuran. Ketepatan, ketelitian, keberimbangan, dan tanggung jawab terhadap kebenaran tetap menjadi bagian penting dari pekerjaan seorang penulis maupun wartawan.
Bagi Anita, Sulaiman bukan hanya seseorang yang memberinya tugas menulis.
Ia menjadi salah satu sosok yang memperkenalkan cara pandang baru terhadap tulisan bahwa sebuah berita tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga dapat membantu pembaca memahami makna di balik sebuah peristiwa.
Perjalanan Anita di dunia kepenulisan pun masih panjang. Ia menyadari bahwa kemampuan menulis tidak lahir dalam waktu singkat. Ada proses membaca, mengamati, belajar, mencoba, melakukan kesalahan, kemudian memperbaikinya.
Dan semuanya bermula dari sebuah sore yang tampak biasa di pelantaran rumah keluarga. Sore ketika Ahmad Aswadi datang bersilaturahmi, sebuah nama disebut, dan sebuah kalimat sederhana membuka pintu menuju perjalanan baru.
Bagi Anita, menulis kini bukan lagi sekadar kemampuan merangkai kata. Menulis adalah proses belajar melihat kehidupan dengan lebih jernih, menyampaikan fakta dengan lebih bertanggung jawab, dan menghadirkan cerita yang tidak hanya dibaca, tetapi juga meninggalkan makna bagi pembacanya. Perjalanan itu belum selesai. Justru baru dimulai. (asd/bbr).
