Langsung ke konten
Banner
Terbaru
Kalsel

Ketika Perjalanan Menjadi Pelajaran

Oleh Ikhsan · 3 Juni 2026 · 5 menit baca · 18 views
Sulaiman sapaan akrab M. Jaya Founder PT. Barito Media Jaya Group bersama Ahmad Subardi, S.Sos., M.A.P. Kabag Umum Sekretariat DPRD Pulang Pisau

MARABAHAN, baritobersinar.news – Matahari tepat berada di puncak langit ketika langkah itu kembali dimulai. Teriknya siang seakan membakar aspal jalan, namun tidak mampu menghalangi tekad seorang musafir yang harus meninggalkan rumah, istri, dan keluarga kecil yang dicintainya.

Sulung Sukma Aji, Bendahara RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas

Ada rasa berat yang sulit diungkapkan.Sebuah kegelisahan yang tak pernah benar-benar hilang setiap kali perjalanan harus dimulai. Namun begitulah jalan yang telah dipilih. Dalam dunia jurnalistik, langkah terkadang harus lebih dahulu bergerak dibanding perasaan yang ingin menetap.

Dari sebuah rumah sederhana di Komplek Batola Residence Blok H Site III Nomor 17, Handil Pinang II, RT 12, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Rabu (3/6/2026) siang, Sulaiman, sapaan akrab M. Jaya, bersiap memulai perjalanan.

Sebelum berangkat, ia menyiapkan cendera mata berupa keripik sederhana. Bukan karena nilainya yang besar, melainkan karena makna yang dibawa. Baginya, perjalanan bukan sekadar bertemu relasi, melainkan mempererat silaturahmi.

Dari teras rumah, lambaian tangan keluarga mengiringi kepergian. Wajah-wajah yang ditinggalkan menyimpan haru yang sulit disembunyikan. Namun perjalanan harus terus berjalan.

Sulaiman memiliki prinsip hidup yang selalu dipegang sejak merintis karier di dunia jurnalistik, yakni memuliakan sesama sebagai jalan untuk memperoleh kemuliaan. Prinsip itu pula yang terus menjadi pegangan dalam setiap langkah dan perjalanannya.

Suara mesin mobil mulai menghidupkan suasana. Rombongan yang dipimpin Fouder PT Barito Media Jaya Group itu pun bergerak meninggalkan Barito Kuala. Sepanjang perjalanan, cuaca yang semula terik perlahan berubah teduh.

Hembusan angin sejuk seolah menjadi teman setia yang menemani perjalanan melintasi Jembatan Barito. Jembatan megah yang menghubungkan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah itu berdiri kokoh di atas bentangan Sungai Barito.

Dari atasnya terlihat aliran sungai yang luas membelah daratan, menjadi urat nadi kehidupan masyarakat di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito.

Jembatan itu seakan menjadi simbol dari semangat yang selama ini diusung Koran Barito sebagai “Jembatan Aspirasi” bagi masyarakat.

Perjalanan berlanjut hingga memasuki Kabupaten Kapuas, daerah yang dikenal dengan slogan “Kapuas Bersinar” dan filosofi daerah “Tingang Menteng Panunjung Tarung”.

Di Kota Air tersebut, rombongan menyempatkan diri singgah di RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas.

Tujuannya bukan urusan pekerjaan, melainkan silaturahmi. Mereka datang membawa buah tangan untuk Sukma Aji, bendahara rumah sakit yang selama ini telah terjalin hubungan baik. Dari halaman parkir, rombongan berjalan menuju pavilliun dan naik ke lantai tiga. Sesampainya di depan ruangan, mereka disambut hangat dan dipersilakan masuk.

Suasana kekeluargaan langsung terasa. Tak ada sekat formalitas. Tak ada pembicaraan kaku layaknya rapat resmi. Yang terdengar hanyalah percakapan ringan, canda tawa, serta obrolan sederhana yang menyimpan banyak pelajaran hidup.

Di sela perbincangan, terselip pesan tentang pentingnya menjaga kepercayaan dalam dunia kerja. Pertemanan merupakan hal yang berharga, namun kehati-hatian tetap harus dijaga karena tidak semua orang mampu menjaga amanah ketika menghadapi persoalan.

Nasehat itu menjadi pengingat bahwa kepercayaan harus dibangun dengan ketulusan sekaligus disertai kewaspadaan. Waktu terus berjalan. Jarum jam tak memberi banyak ruang untuk berlama-lama.

Perjalanan masih harus dilanjutkan menuju Kabupaten Pulang Pisau, daerah yang dikenal dengan semangat “Handep Hapakat”, filosofi gotong royong masyarakat Dayak yang sarat makna kebersamaan.

Sore perlahan berganti senja ketika rombongan tiba di Pulang Pisau. Langit mulai berubah warna keemasan. Matahari yang sejak siang menemani perjalanan kini perlahan tenggelam di ufuk barat.

Tujuan berikutnya adalah menjalin silaturahmi dengan relasi di lingkungan DPRD Pulang Pisau. Namun waktu yang semakin malam membuat agenda pertemuan harus ditunda hingga keesokan hari. Malam akhirnya benar-benar turun.

Di tengah perjalanan, rombongan menepi di pinggir jalan. Beberapa gorengan hangat dan makanan bakar menjadi santapan sederhana untuk mengganjal perut setelah menempuh perjalanan panjang ratusan kilometer.

Tak ada restoran mewah. Tak ada hidangan istimewa. Namun dalam perjalanan, kebersamaan sering kali membuat makanan sederhana terasa lebih nikmat. Menjelang larut malam, Sulaiman menyempatkan diri bertamu ke kediaman Dayan di kawasan Bundaran Belah, Komplek Pelajar, Gang Sultan Adam, RT 14, tepat di samping Balai Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pulang Pisau.

Bagi Sulaiman, Dayan bukan sekadar sahabat, melainkan telah dianggap sebagai bagian dari keluarga meski tidak memiliki hubungan darah. Di rumah itulah rombongan beristirahat, melepas lelah sambil menanti fajar menyingsing.

Pagi pun akhirnya tiba. Cahaya matahari mulai menerangi Kota Pulang Pisau, menandai dimulainya agenda baru. Karena keterbatasan waktu, rombongan segera melanjutkan perjalanan menuju Kantor Sekretariat DPRD Kabupaten Pulang Pisau.

Selain bersilaturahmi dengan rekan kerja, Sulaiman juga membawa cendera mata yang telah dipersiapkan sejak keberangkatan dari Barito Kuala. Baginya, buah tangan sederhana itu memiliki makna mendalam.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, cendera mata tersebut dikenal sebagai tombo kangen, simbol penawar rindu sekaligus ungkapan perhatian kepada sahabat dan kerabat. Sesampainya di Sekretariat DPRD Pulang Pisau, rombongan disambut hangat oleh Ahmad Subardi, S.Sos., M.A.P.

Mereka dipersilakan memasuki ruangan dan duduk. Tak lama kemudian, teh kotak dan air mineral kemasan tersaji di atas meja. Sambutan sederhana itu menghadirkan suasana akrab, seolah-olah pertemuan tersebut telah lama dinantikan.

Meski baru pertama kali bertatap muka, kehangatan langsung terasa. Tidak ada percakapan yang terlalu serius. Obrolan santai mengalir membahas pengalaman hidup, silaturahmi, hingga perjalanan spiritual.

Dalam perbincangan tersebut, Ahmad Subardi mengenang awal mula dirinya dapat bersilaturahmi ke kediaman ulama kharismatik Kalimantan Selatan, KH Asmuni atau yang lebih dikenal sebagai Abah Guru Danau.

Berawal dari tekad yang kuat dan niat yang tulus, kesempatan yang semula terasa sulit akhirnya terwujud. Hubungan itu kemudian berkembang hingga dirinya mendapat kehormatan menjadi salah seorang anak angkat Abah Guru Danau.

Cerita itu semakin menegaskan bahwa setiap perjalanan selalu mempertemukan seseorang dengan pelajaran baru. Ada nilai tentang ikhtiar, adab, serta pentingnya menjaga silaturahmi yang tak pernah lekang oleh waktu.

Karena pada hakikatnya, perjalanan bukan hanya tentang tujuan yang ingin dicapai. Ia adalah kumpulan pelajaran, pertemuan, nasihat, silaturahmi, serta jejak-jejak pengalaman yang akan terus hidup dalam ingatan.

Dan bagi seorang musafir jurnalistik, setiap kilometer jalan yang dilalui selalu menyimpan cerita yang layak untuk ditulis dan dikenang. (***).

Bagikan:
Pedoman Media Siber | Redaksi | SOP Perlindungan Wartawan | Kode Etik Jurnalistik | Kode Etik Internal Perusahaan | Kode Etik Perilaku Perusahaan Pers| Kode Etik Perilaku Wartawan | Jenjang Karier Kewartawanan| Peraturan Perusahaan Pers | Pedoman Pemberitaan Ramah Anak