Dari Kepedulian Lahir Kebahagiaan
Oleh : Al Faqir Ihsan (Sambialaw)
BANJARMASIN, baritobersinar.news- Senja perlahan berganti malam ketika deru mesin mobil meninggalkan Markas PT Barito Media Jaya Group di Komplek Batola Residence, Blok H, Site III, Handil Pinang II, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Jumat (26/6/2026).

Perjalanan itu bukan sekadar menempuh jarak.Di balik roda yang terus berputar, tersimpan niat tulus untuk merajut tali persaudaraan.
Rasa letih dikesampingkan. Founder Barito Media Jaya Group, Sulaiman sapaan akrab M Jaya, bersama rombongan memilih berangkat menjenguk seorang wartawan senior pemilik koran lokal yakni Koran Bartim Bersinar, Syahril Supu, yang tengah terbaring sakit di kediamannya Handil Bakti, Komplek Griya Permata.
Bagi Sulaiman, Syahril bukan hanya seorang jurnalis senior. Sosok itu merupakan guru sekaligus paman yang banyak memberi pelajaran tentang kehidupan dan dunia jurnalistik. Meski sempat mendapat kabar bahwa Syahrir telah dipulangkan dari rumah Sakit Ansyari Saleh ke kediamannya di Handil Bakti, Komplek Griya Permata, Jalan Cinta Muluia RT. 13 Kecamatan Alalak, Barito Kuala langkah rombongan tak berhenti.
Mereka tetap datang membawa doa, perhatian, dan kasih sayang yang tak dapat diukur dengan kata-kata. Di mata Sulaiman, silaturahmi bukan hanya hadir untuk mengucapkan semoga lekas sembuh. Ada makna yang lebih dalam. Ada kepedulian yang diwujudkan melalui berbagi rezeki sebagai bentuk kasih kepada sesama.
Prinsip itulah yang selama ini ia pegang. Menurutnya, ketika menjenguk orang sakit, akan jauh lebih bermakna apabila disertai sedikit pemberian sebagai tanda perhatian, bukan sekadar datang lalu pulang. Usai mengunjungi sang wartawan senior, perjalanan kembali berlanjut.
Langit malam mulai memancarkan cahayanya ketika rombongan bergerak menuju kawasan HKSN, Komplek AMD, RT.20, Kelurahan Alalak Selatan, Kota Banjarmasin. Tujuan berikutnya adalah kediaman Ayatullah Humaidi, rekan kerja sekaligus keluarga besar PT Barito Media Jaya Group yang akrab disapa A. Rafiq.
Sesampainya di halaman rumah, suara mesin mobil perlahan berhenti. Pintu rumah terbuka lebar. Sambutan hangat langsung menyelimuti rombongan. Hidangan sederhana telah tersaji di atas meja, menghadirkan suasana kekeluargaan yang begitu akrab.
Namun, ada kejutan yang sama sekali tak diduga. Di sudut meja tampak sebuah kotak kue ulang tahun yang masih tersimpan rapi di dalam kantong plastik. Ternyata keluarga besar telah menyiapkan perayaan sederhana untuk memperingati hari lahir Sulaiman yang ke-44 tahun. Ini menjadi perayaan kedua setelah sebelumnya dirayakan di markas PT Barito Media Jaya Group.
Sesaat kemudian lilin dinyalakan. Cahaya kecil itu seolah menjadi simbol doa yang menyala dari hati orang-orang terdekat. Ucapan selamat, harapan, dan doa mengalir dari rekan-rekan, keluarga, hingga sang istri yang mendampingi sepanjang perjalanan.
Di tengah suasana penuh kehangatan itu, perhatian para tamu tertuju kepada Kepala Biro Puruk Cahu, Ahmad Aswadi yang sering disapa Burung Hut-Hut. Dengan senyum yang teduh, ia menyampaikan sebuah pandangan yang sederhana namun sarat makna.
Menurutnya, doa yang lahir dari hati seorang istri memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Bukan karena mengurangi nilai doa orang lain, melainkan karena ketulusan seorang pendamping hidup diyakini menjadi kekuatan yang tak ternilai bagi suaminya.
Ucapan itu membuat suasana sejenak hening.Semua yang hadir larut dalam renungan bahwa usia bukan sekadar angka, melainkan kesempatan untuk terus menebar manfaat, menjaga silaturahmi, menghormati para guru, menyayangi keluarga, dan tidak pernah lupa berbagi kepada sesama.
Malam itu menjadi lebih dari sekadar perjalanan. Ia menjelma menjadi kisah tentang bakti kepada guru, kasih kepada sahabat, cinta keluarga, serta keyakinan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari hati yang tak pernah lelah memuliakan orang lain. (***).
