Langsung ke konten
Banner
Terbaru
Kalsel

Musafir Pena Menjemput Makna

Oleh Ikhsan · 5 Juli 2026 · 3 menit baca · 3 views

MARTAPURA, baritobersinar.news – Empat hari meninggalkan Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah, dari Rabu. (01/7/2026) sampai Minggu, (05/7/2026) lalu mungkin terasa singkat jika dihitung dengan waktu.

Namun bagi seorang musafir jurnalistik, empat hari di perjalanan bisa menjadi perjalanan panjang untuk membaca kehidupan.

Setiap tikungan jalan, dentuman roda kendaraan, dinginnya malam, hingga sunyinya perjalanan seakan memiliki cerita sendiri. Ada pelajaran yang tidak ditemukan di ruang kelas, tetapi hanya bisa dipahami ketika seseorang berani melangkah keluar, menyusuri jalan, dan berhadapan langsung dengan kenyataan.

Ketika sebagian orang telah terlelap dalam hangatnya selimut, seorang musafir jurnalistik justru masih berada di perjalanan. Gelap malam menjadi teman, rasa lelah menjadi bagian yang harus diterima, sementara tujuan terus dikejar.

Perjalanan bukan sekadar perpindahan dari satu daerah ke daerah lain. Di dalamnya terdapat proses menempa jiwa. Rasa lelah mengajarkan kesabaran. Rasa rindu mengajarkan ketabahan.

Sementara keterbatasan perlahan mengajarkan seseorang untuk menerima keadaan dengan penuh rasa syukur.

Bagi seorang jurnalis, perjalanan seperti ini merupakan bagian dari pengabdian.
Profesionalisme bukan hanya tentang kemampuan menulis berita, mengambil gambar, atau mencari informasi. Lebih dari itu, profesionalisme adalah kesanggupan menjaga tanggung jawab ketika keadaan tidak selalu berpihak.

Ada saat ketika hati ingin segera pulang, berkumpul bersama keluarga, dan menikmati kenyamanan rumah. Namun tugas tetap memanggil. Langkah harus terus berjalan, sebab ada informasi yang harus disampaikan dan ada realitas masyarakat yang perlu diketahui publik.

Tidak selalu ada kemewahan di balik perjalanan seorang musafir pena. Terkadang tempat beristirahat hanyalah sudut ruangan sederhana. Koran lusuh bisa menjadi alas untuk merebahkan tubuh yang kelelahan.

Kasur empuk dan pendingin ruangan bukan sesuatu yang selalu tersedia.
Yang ada hanyalah suara malam, dinginnya udara, tubuh yang lelah, dan doa yang dipanjatkan dalam diam. Namun justru dari keadaan itulah ketangguhan perlahan tumbuh. Jalanan mengajarkan kesabaran.

Kesunyian mengajarkan keteguhan. Keterbatasan mengajarkan arti bersyukur. Sementara pertemuan dengan banyak orang membuka mata bahwa kehidupan memiliki begitu banyak wajah dan cerita. Seorang jurnalis tidak hanya bertugas menulis berita.

Ia juga merupakan pengembara kehidupan yang menyaksikan berbagai peristiwa dari dekat. Ia melihat bagaimana masyarakat bertahan, mendengar keluhan mereka, merasakan perjuangan mereka, dan membawa cerita tersebut menjadi informasi bagi orang lain.

Di balik sebuah berita yang terbit, ada perjalanan yang mungkin tidak pernah terlihat oleh pembaca. Ada debu yang menempel di kendaraan. Ada malam panjang yang dilewati. Ada rasa lelah yang disimpan sendiri.

Ada kerinduan kepada keluarga. Dan ada doa yang diam-diam dipanjatkan agar perjalanan selalu diberi keselamatan. Empat hari meninggalkan Kota Tamiang Layang akhirnya bukan sekadar perjalanan pulang-pergi. Ia menjadi sebuah catatan kehidupan.

Catatan bahwa menjadi musafir jurnalistik berarti bersedia menjadikan lelah sebagai sahabat, pengorbanan sebagai bagian dari perjuangan, dan setiap perjalanan sebagai kesempatan untuk belajar.

Sebab pada akhirnya, jalanan tidak hanya membawa seorang musafir menuju sebuah tempat. Jalanan juga membawanya semakin dekat kepada makna kehidupan. (isn/bbn).

Bagikan:
Pedoman Media Siber | Redaksi | SOP Perlindungan Wartawan | Kode Etik Jurnalistik | Kode Etik Internal Perusahaan | Kode Etik Perilaku Perusahaan Pers| Kode Etik Perilaku Wartawan | Jenjang Karier Kewartawanan| Peraturan Perusahaan Pers | Pedoman Pemberitaan Ramah Anak