Dari Petani Karet Kini Menjadi Kepala Biro

PURUKCAHU, baritobersinar.news – Tidak semua perjalanan menuju keberhasilan dimulai dari tempat yang mudah. Ada yang berangkat dari keterbatasan, bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga, lalu perlahan menemukan jalan baru yang mengubah arah kehidupannya.
Kisah itu dijalani Burung Hut-Hut sapaan akrab Ahmad Aswadi, wartawan yang kini dipercaya sebagai Kepala Biro Koran Barito Kabupaten Murung Raya.
Di balik pekerjaannya sebagai jurnalis, tersimpan perjalanan panjang yang mempertemukan dirinya dengan dunia jurnalistik melalui sebuah kesempatan dan bimbingan dari Sulaiman sapaaan akrab M Jaya, Founder Koran Barito atau PT Barito Media Jaya Group.
Sebelum mengenal dunia jurnalistik, Ahmad Aswadi yang dikenal dengan sapaan Burung Hut-Hut menjalani kehidupan sebagai petani penyadap karet. Pada 2010 hingga 2016, aktivitas tersebut dilakoninya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus membiayai pendidikan anak-anaknya.
Pekerjaan itu tidak selalu mudah. Namun, keterbatasan kehidupan justru menempa dirinya untuk menjadi pribadi yang sabar, tekun, dan terbiasa menghadapi berbagai tantangan. Pengalaman berinteraksi dengan masyarakat selama menjadi petani kemudian menjadi salah satu bekal ketika ia mulai memasuki dunia organisasi.
Pada 2017, Ahmad Aswadi dipercaya menjadi Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di wilayah Kalimantan Tengah. Dari organisasi tersebut, wawasannya semakin terbuka. Ia mulai terbiasa berkomunikasi dengan masyarakat, tokoh-tokoh daerah, maupun berbagai pihak dalam menyampaikan aspirasi dan persoalan yang ada di tengah masyarakat.
Namun, perjalanan itu kemudian membawanya ke dunia yang sama sekali berbeda. Sebuah Pertemuan yang Mengubah Arah. Tahun 2022 menjadi titik penting dalam perjalanan Ahmad Aswadi. Saat berada di Murung Raya, ia bertemu dengan Sulaiman.
Dalam pertemuan tersebut, Sulaiman menawarkan kesempatan kepada Ahmad Aswadi untuk bergabung sebagai wartawan Koran Barito yang bertugas di Kabupaten Murung Raya. Tawaran itu tidak serta-merta diterimanya.
Ahmad Aswadi mengaku saat itu dirinya belum memahami bagaimana dunia jurnalistik bekerja. Menjadi wartawan bukan sekadar menulis, tetapi juga memiliki tanggung jawab menyampaikan informasi kepada masyarakat dengan memperhatikan fakta dan etika.
Setelah mendapatkan penjelasan mengenai tugas dan tanggung jawab seorang wartawan, Ahmad Aswadi akhirnya memberanikan diri mengambil kesempatan tersebut. Pada 10 Oktober 2022, ia resmi mulai menjalankan tugas jurnalistik sampai 2026 sekarang.
Langkah pertamanya sederhana, tetapi menjadi bagian penting dari proses belajar. Ia memperkenalkan diri kepada pejabat publik, tokoh masyarakat, serta berbagai pihak yang menjadi sumber informasi di Kabupaten Murung Raya.
Dari sana, perlahan ia belajar mengenali karakter masyarakat, membangun komunikasi, mencari informasi, dan memahami bagaimana sebuah peristiwa dapat diolah menjadi berita. Belajar dari Kesalahan. Memasuki 2023, aktivitas jurnalistik Ahmad Aswadi semakin berkembang sampai sekarang.
Ia mulai membangun komunikasi dengan pemerintah daerah, instansi terkait, dan sesama wartawan. Di tengah proses belajar tersebut, ia menyadari bahwa menjadi wartawan membutuhkan ketelitian dan kehati-hatian.
Karena itu, ketika menghadapi persoalan atau belum memahami sesuatu, ia tidak segan meminta arahan kepada pimpinan. Bimbingan Sulaiman menjadi salah satu bagian penting dalam proses tersebut.
Arahan yang diberikan bukan hanya mengenai pekerjaan, tetapi juga bagaimana seorang wartawan menjaga komunikasi, memahami tanggung jawab, dan tetap menjalankan tugas secara profesional. Memasuki awal 2024, kepercayaan dirinya semakin tumbuh.
Ahmad Aswadi mulai mampu menjalankan tugas sebagai wartawan secara lebih mandiri serta membangun komunikasi dengan berbagai kalangan. Perjalanan itu terus dijalaninya hingga 2026 sekarang.
Kini, setelah beberapa tahun berada di dunia jurnalistik, Ahmad Aswadi dipercaya mengemban tugas sebagai Kepala Biro Koran Barito Kabupaten Murung Raya.
Tidak Melupakan Orang yang Membuka Jalan. Bagi Ahmad Aswadi, pencapaian tersebut bukan sekadar sebuah jabatan. Di baliknya terdapat proses panjang yang dimulai dari kehidupan sebagai penyadap karet, pengalaman berorganisasi, hingga akhirnya mengenal dunia jurnalistik.
Ia menyadari bahwa dirinya tidak mungkin sampai pada titik tersebut tanpa kesempatan yang pernah diberikan kepadanya. Karena itu, Ahmad Aswadi mengaku tidak melupakan jasa dan bimbingan Sulaiman yang telah membuka jalan baginya untuk mengenal dunia jurnalistik.
Berbagai tantangan yang datang sejak awal menjadi wartawan tidak membuatnya berhenti. Justru pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Dari seorang petani penyadap karet, ia menemukan jalan baru sebagai wartawan.
Dari ketidaktahuan tentang jurnalistik, ia belajar melalui pengalaman dan bimbingan. Kini, tugas itu tidak lagi sekadar menjadi sebuah pekerjaan.
Bagi Ahmad Aswadi, jurnalistik adalah tanggung jawab untuk terus berkarya, menyampaikan informasi kepada masyarakat, serta menjaga kepercayaan yang telah diberikan kepadanya.
Perjalanan Ahmad Aswadi menjadi pengingat bahwa kesempatan terkadang datang dari sebuah pertemuan sederhana. Namun, kesempatan itu hanya akan menjadi berarti ketika seseorang mau belajar, bekerja keras, dan tidak berhenti melangkah. (isn/bbn).
