Kalsel
Perjalanan Spiritual Menuju Makam Datu Muning
Penulis: (Al-Faqir) Ihsan
RANTAU, baritobersinar.news – Rombongan dari PT Media Jaya Group melakukan perjalanan spiritual menuju sebuah lokasi yang diyakini sebagai tempat peristirahatan seorang waliyullah di Desa Muning, Kecamatan Candi Laras Selatan, Kabupaten Tapin, Kalsel. Minggu (14/4/2026).
Dipimpin oleh Sulaiman A.S., yang akrab disapa M. Jaya, perjalanan dimulai dari Komplek Batola Residence, Handil Pinang, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, pada malam hari. Suasana gelap dan hening mengiringi keberangkatan rombongan menuju lokasi yang relatif terpencil.
Setelah menempuh perjalanan darat, rombongan sempat beristirahat di Masjid Baitun Nur RT. 7, Desa Sungai Rutas, Kecamatan Candi Laras Selatan, Kabupaten Tapin, Kalsel.
Sebelum melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Pagi yang tenang menjadi awal perjalanan.
Akses menuju lokasi makam tidak sepenuhnya dapat dilalui melalui jalur darat. Rombongan harus melanjutkan perjalanan menggunakan perahu, menyusuri aliran sungai yang menjadi satu-satunya jalur menuju lokasi yang dinanti.
Ditengah Perjalanan menuju makam sang waliyullah, rombongan yang di kawal dari keturunan datu Datuk Muning seorang perempuan bernama Marni, (40) yang berada dalam satu perahu untuk membasuh muka.
“Silakan basuh muha pian (cuci muka kamu red) untuk mengambil tabarrukan sebelum sampai ke makam Datu, “ujarnya pelan.
Dalam tradisi ziarah ke makam waliyullah, peziarah kerap dianjurkan untuk meminum atau memanfaatkan apa yang ada di sekitar sebagai bentuk mengambil berkab (tabaruk red) dari karamah sang kekasih Allah.
Setibanya di lokasi, rombongan mendapati sebuah kawasan makam yang sederhana dan jauh dari kesan ramai. Tempat tersebut diyakini sebagai makam Datu Muhammad Ilyas, yang lebih dikenal sebagai Datu Muning, sosok yang dipercaya sebagai waliyullah yang merupakan garis keturunan tersambung kepada Datu Suban.
Salah satu hal yang menarik perhatian adalah kondisi pusara yang tampak bersih tanpa ditumbuhi rumput. Fenomena tersebut menjadi hal yang kerap menimbulkan tanda tanya bagi para peziarah.
Penjaga makam setempat menyampaikan bahwa informasi mengenai sejarah detail tokoh tersebut masih terbatas. Namun, ia menegaskan bahwa tempat itu telah lama menjadi tujuan ziarah masyarakat.
“Sejarahnya kami di sini tidak banyak tahu secara rinci, tapi yang jelas tempat ini sudah lama diziarahi orang-orang yang datang dengan niat baik,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pengalaman berziarah di tempat tersebut sering kali lebih bersifat personal dan tidak selalu dapat dijelaskan secara rasional.
“Di sini tidak semua harus dijelaskan dengan kata-kata, kadang cukup dirasakan saja. Yang penting niatnya lurus,” tambahnya.
Perjalanan ini tidak hanya menjadi kunjungan ke sebuah lokasi, tetapi juga menghadirkan pengalaman reflektif bagi para peserta. Di tengah keterbatasan akses dan minimnya informasi, perjalanan tersebut memberikan ruang untuk perenungan dan penguatan nilai spiritual.
Makam Datu Muning mungkin belum banyak dikenal secara luas, namun bagi para peziarah yang pernah mengunjunginya, tempat ini meninggalkan kesan mendalam sebagai lokasi yang sarat makna batin. (***)
